Lebaran sering kali dicitrakan sebagai kanvas penuh warna; tawa yang berderai, hidangan yang melimpah, dan pelukan hangat keluarga yang lengkap. Seiring Langkah, kita mulai memahami sebuah rahasia yang lebih sunyi: Lebaran tidak selalu tentang kebahagiaan yang riuh. Lebaran menjadi sebuah perjalanan pulang—bukan sekadar tentang fisik yang kembali ke kampung halaman, melainkan jiwa yang kembali menengok ke dalam dirinya sendiri. Dalam gema takbir yang bergetar di langit malam, ada frekuensi yang berbeda-beda di setiap hati. Kita melihat realitas yang tak seragam. Kita menyaksikan mereka yang merayakan kemenangan di hadapan ruang hampa, menatap sebuah tempat duduk yang kosong, tanpa lagi ada raga yang mengisi jamuan. Di sisi lain, ada sudut-sudut rumah yang wanginya kini berubah menjadi aroma sunyi; di sana, gelak tawa yang dulu riuh kini telah meluruh, menjelma gema halus yang hanya bisa didengar oleh hati. Namun, Ternyata, inti dari Idulfitri bukan sekadar saling memaa...