BERTAHAN DALAM DIAM
Ada hari-hari di mana dunia terasa begitu riuh, tapi jiwa justru memilih untuk senyap. Rasanya seperti sedang dihantam badai yang lebih pekat, yang meremukkan tulang-tulang angan hingga menjadi debu, tanpa menyisakan ruang sedikit pun untuk napas yang tenang. Namun, di bawah langit yang rasanya runtuh ini, aku masih mencoba berdiri menantang fajar. Jika luka adalah satu-satunya bahasa yang ada untuk mengujiku, biarlah ia menghancurkan apa yang perlu hancur, sebab selagi jantung ini masih berdenyut, aku belum akan menyerah. Mungkin benar bahwa kita sering kali menjadi penyair yang paling teliti saat sedang hancur. Aku menyusun setiap diksi dalam sujudku dengan sangat hati-hati, merangkai kata-kata yang paling megah hanya agar semesta tidak perlu mencium aroma kehancuranku. Aku membungkus sesak ini dengan kalimat-kalimat yang tampak tegar, hanya agar Tuhan tahu bahwa hamba-Nya ini sedang berjuang, bukan sekadar menyerah kalah di tangan nasib yang sedang tidak ramah. Lucu memang...