ELEGI DALAM RIUH YANG SUNYI
Belakangan ini, waktu terasa seperti kabut yang menyelinap di antara jemari; dingin, sulit digenggam, dan melenyapkan batas antara ada dan tiada. Ada sebuah ruang di dalam dada yang mendadak meluap oleh kesunyian. Sunyi yang menuntut sebuah kehadiran yang tak kunjung datang.
Pikiran saat ini sedang dilanda mendung, warna-warna enggan muncul dan cahaya seolah terserap oleh kekosongan.
Menjebakkan diri dalam lingkaran aktivitas yang tak berujung. Mencuri waktu dari jam tidur, meminjam tenaga dari sisa-sisa istirahat, hanya demi memastikan jemari dan pikiran ini tetap bergerak serta layar monitor tetap berpijar. Saya mengejar tenggat waktu seolah-olah sedang berlari menjauhi dari hantu bernama "waktu luang." Sebab di dalam waktu luang itu, sunyi terasa terlalu sangat bising.
Secara fisik, memang tidak ada siapapun. Kursi di seberang meja tetap kosong, dan hanya detak jam dinding yang setia menyahut napas. Namun, di balik rasa sepi yang mencekam itu, ada sesuatu yang tak bernama mulai mengisi ruang-ruang kosong, membawa ketenangan yang sulit dijelaskan.
Ada kehangatan yang menyelinap saat uap kopi menyentuh pipi di jam tiga pagi. Ada percakapan tanpa kata antara nurani dan semesta yang hanya bisa terdengar ketika dunia sedang terlelap. Saya mulai menyadari bahwa kesendirian ini bukanlah sebuah pengasingan, melainkan sebuah undangan.
Meski raga lelah oleh kerja yang dipaksakan, hati perlahan menemukan kesejukan dalam kesunyian yang mistis. Tidak lagi sekadar melarikan diri, melainkan sedang menari dalam sunyi yang paling dalam. Ternyata, ada kemewahan luar biasa saat mampu menjadi "teman" bagi diri kita sendiri, di saat seluruh dunia terasa begitu jauh.
Malam
ini, biarlah pekerjaan ini selesai bukan karena ketakutan akan sepi, tapi
sebagai perayaan atas kehadiran diri yang selama ini terlupakan.

Komentar
Posting Komentar