BERTAHAN DALAM DIAM
Ada hari-hari di mana dunia terasa begitu riuh, tapi jiwa justru memilih untuk senyap. Rasanya seperti sedang dihantam badai yang lebih pekat, yang meremukkan tulang-tulang angan hingga menjadi debu, tanpa menyisakan ruang sedikit pun untuk napas yang tenang. Namun, di bawah langit yang rasanya runtuh ini, aku masih mencoba berdiri menantang fajar. Jika luka adalah satu-satunya bahasa yang ada untuk mengujiku, biarlah ia menghancurkan apa yang perlu hancur, sebab selagi jantung ini masih berdenyut, aku belum akan menyerah.
Mungkin benar bahwa kita
sering kali menjadi penyair yang paling teliti saat sedang hancur. Aku menyusun
setiap diksi dalam sujudku dengan sangat hati-hati, merangkai kata-kata yang
paling megah hanya agar semesta tidak perlu mencium aroma kehancuranku. Aku
membungkus sesak ini dengan kalimat-kalimat yang tampak tegar, hanya agar Tuhan
tahu bahwa hamba-Nya ini sedang berjuang, bukan sekadar menyerah kalah di
tangan nasib yang sedang tidak ramah.
Lucu memang, betapa
kerasnya aku menempa perisai agar terlihat perkasa di hadapan dunia, tapi pada
akhirnya aku selalu berakhir sebagai pecundang di hadapan kesedihanku sendiri. Saat
aku merasa sudah cukup tegar untuk menantang badai, bendungan di pelupuk mataku
justru memilih untuk berkhianat dan meruntuhkan segala pertahanan yang kubangun
dengan susah payah. Aku hanyalah seorang prajurit yang gagal, yang seragamnya
tampak gagah namun jiwanya basah kuyup oleh tangisan yang tidak pernah menemui
muara.
Setelah seluruh perang di
kepalaku ini selesai, aku hanya ingin kembali ke pelukan sebuah tempat yang
tidak mewajibkan penjelasan. Aku sudah terlalu lelah menceritakan perihku pada
dunia yang sering kali hanya ingin tahu tanpa benar-benar peduli. Aku ingin
pulang ke sebuah kediaman di mana diamku dipahami sebagai bahasa, dan
kesedihanku tidak lagi dianggap sebagai beban yang harus diuraikan dengan
kata-kata. Di sana, aku hanya ingin bernapas sebagai manusia, bukan sebagai
narasi yang harus selalu masuk akal bagi orang lain.
Komentar
Posting Komentar