Ada sebuah sunyi yang tak biasa di matanya malam
ini. Di saat dunia luar mulai bersiap dengan eforia dan riuh kemenangan, ia
justru terlihat terjebak dalam ruang kedap suara yang ia ciptakan sendiri.
Ruangan di sekelilingnya masih sama, sudut-sudutnya masih menyimpan memori yang
identik, namun ada sesuatu yang telah berubah total: riuhnya kini telah menjadi
rahasia yang ia simpan rapat-rapat dalam dada.
Ia sedang meniti sebuah jalan
yang sunyi—belajar merayakan
kehilangan di tengah hari Menjelang kemenangan.
Baginya, beberapa doa memang tidak dikirim untuk
langsung digenggam. Ia mulai paham bahwa sebagian doa hadir hanya untuk melatih
hati agar tetap lapang. Di penghujung bulan suci ini, ia terlihat sedang
belajar ikhlas pada apa yang telah pergi dan mencoba tetap tenang pada apa yang
belum pasti. Rindu menjadi satu-satunya tamu yang datang tanpa mengetuk pintu
ke dalam pikirannya, membawa serta serpihan hati yang sedang berusaha ia
rekatkan kembali satu demi satu.
Namun, di tengah kepungan
sepi itu, ia menemukan sebuah anomali.
Lucu bagaimana semesta bekerja di matanya. Saat
takdir mengambil pelukan yang biasa ia sentuh, semesta justru menawarkan
kenyamanan melalui sebuah frekuensi
yang jauh. Sesuatu yang tak terjamah secara fisik, namun terasa nyata
bergetar di antara sela-sela doanya.
Sosok itu hadir tidak dengan
suara yang berisik, melainkan melalui isyarat-isyarat halus yang mampu meredam
senyap yang tadinya terasa mencekik jiwanya. Kehadirannya bagaikan cakrawala: terlihat sangat
jelas memberi warna di ujung pandangannya, namun jaraknya belum mampu ia
tempuh. Titik itu ada di sana, di koordinat yang tak terjangkau tangan, namun
entah bagaimana, mampu memberikan ketenangan yang magis.
Ia tak pernah benar-benar
tahu apakah ini adalah jawaban atas doa-doanya, atau sekadar
persinggahan agar jiwanya tidak terlalu lama karam. Namun, kehadiran anomali
itu cukup untuk membuatnya merasa tidak sendirian di tengah kerapuhan yang ia
sembunyikan.
Di sisa Ramadhan yang kian menipis, harapannya
kini terdengar sangat sederhana: Agar
hati itu
tetap lapang.
Ia ingin cukup kuat untuk
merelakan yang telah menjadi masa lalu, dan cukup bijak untuk tidak memaksakan
apa yang masih menjadi misteri. Ia memilih untuk tetap tegar, meski di balik
jubah ketenangan yang ia kenakan, ada hati yang sedang berdarah-darah
mengumpulkan kepingannya.
Semoga damai tetap menetap
dalam dadanya, meski tanpa tangan yang biasa mendekap. Dan untuk sang anomali
di garis cakrawala... ia membiarkan waktu yang menerjemahkan, apakah jarak ini
akan terpangkas, atau akan selamanya menjadi keindahan yang cukup dipandang
dari kejauhan.

Komentar
Posting Komentar